Benarkah Berdaulat?

Tahun demi tahun kalian membaca post yang aku tulis tentang Hari Kemerdekaan dan mungkin tiap tahun aku tampak semakin putus asa dengan negeri ini—tapi tahun ini rasa putus asa tersebut sungguh memuncak. Kali ini aku yakin aku bukan satu-satunya yang merasakannya. Tahun ini untuk pertama kalinya, kita sebagai bangsa kompak menyatakan #IndonesiaGelap. Jika dulu rasanya ada jarak antara pemerintah dan rakyat, tahun ini jarak tersebut telah menjelma menjadi jurang di bawah pemerintahan baru. Entah apakah masih bisa (atau mau) dijembatani atau tidak. Hari demi hari ada saja kebijakan baru yang merugikan rakyat, hari demi hari ada saja kejutan yang menyiksa pikiran. Betapa malangnya tanah airku digerogoti tikus-tikus tak tahu malu ini.

Tidak heran jika tren #KaburAjaDulu dan mengibarkan bendera One Piece menjadi sesuatu yang marak di kalangan warga. Sesungguhnya kami masih cinta pada negeri ini—yang kian hari kian menyayat hati nurani dan akal sehat kami—tapi kami ingin memisahkan diri dari sosok-sosok yang berada di kursi penguasa, semata-mata karena diberikan amanah oleh (yang seharusnya adalah) mayoritas dari kami. Mereka yang menganggap demokrasi adalah mainan semata, tidak punya arti dan tidak dihargai. Malu sama Garuda Pancasila, sama Alm. Presiden Soekarno. Malu sama Tuhan.

Tahun demi tahun kalian membaca post yang aku tulis tentang Hari Kemerdekaan dan mungkin tiap tahun aku tampak semakin putus asa dengan negeri ini—tapi tahun ini rasa putus asa tersebut sungguh memuncak. Kali ini aku yakin aku bukan satu-satunya yang merasakannya. Tahun ini untuk pertama kalinya, kita sebagai bangsa kompak menyatakan #IndonesiaGelap. Jika dulu rasanya ada jarak antara pemerintah dan rakyat, tahun ini jarak tersebut telah menjelma menjadi jurang di bawah pemerintahan baru. Entah apakah masih bisa (atau mau) dijembatani atau tidak. Hari demi hari ada saja kebijakan baru yang merugikan rakyat, hari demi hari ada saja kejutan yang menyiksa pikiran. Betapa malangnya tanah airku digerogoti tikus-tikus tak tahu malu ini.

Tidak heran jika tren #KaburAjaDulu dan mengibarkan bendera One Piece menjadi sesuatu yang marak di kalangan warga. Sesungguhnya kami masih cinta pada negeri ini—yang kian hari kian menyayat hati nurani dan akal sehat kami—tapi kami ingin memisahkan diri dari sosok-sosok yang berada di kursi penguasa, semata-mata karena diberikan amanah oleh (yang seharusnya adalah) mayoritas dari kami. Mereka yang menganggap demokrasi adalah mainan semata, tidak punya arti dan tidak dihargai. Malu sama Garuda Pancasila, sama Alm. Presiden Soekarno. Malu sama Tuhan.

📷 Fujifilm X-T100 with Fujinon Aspherical Superb EBC XC 15-45mm lens + ASUS ZenFone 10 50 MP f/1.9, (23.8 mm lens)

Apakah Kedaulatan Hanya Mainan Belaka?

Atas arahan dari pemerintah—aku menolak memanggilnya Presiden karena tingkahnya tidak memimpin, mengayomi dan melindungi siapa-siapa, tema kemerdaan di tahun ke-80 ini adalah Bersatu Berdaulat Rakyat Sejahtera Indonesia Maju.

Coba kutanyakan: Siapa yang berdaulat?  Bagaimana mau berdaulat kalau semua hak dilucuti oleh pemerintah? Pajak Bumi dan Bangunan dinaikkan hingga ratusan persen di berbagai daerah di Indonesia. Kabupaten Pati di Jawa Tengah yang berhasil memukul mundur polisi saat demonstrasi pun diberi serangan mendadak gas air mata DI RUMAH IBADAH?! Malu sama Tuhan, wahai para tikus serakah! Sikap kalian tak ubahnya para zionis.

Belum lagi peraturan yang mengancam mengambil tanah milik rakyat jika ‘dianggurkan’ 2 tahun dan membekukan rekening yang tidak aktif. Hei, mengurus aset negara yang sudah kami percayakan saja tidak becus, kamu mau mengambil aset kami?! Kurang banyak apa hasil uang korupsi yang sudah kalian raup selama ini?

Lalu siapa pula yang sejahtera? Tingkat pengangguran negeri ini sudah mencapai yang teratas di seluruh ASEAN—total 7 juta orang hingga Maret 2025 kemarin. Mana 19 juta lapangan pekerjaan yang dijanjikan saat kampanye? Bikin job fair aja nggak becus! Bukannya sejahtera, rakyat malah berjuang mati-matian untuk bertahan hidup, dengan maraknya PHK, kebangkrutan dan minimnya lowongan pekerjaan yang sesuai.

Atas arahan dari pemerintah—aku menolak memanggilnya Presiden karena tingkahnya tidak memimpin, mengayomi dan melindungi siapa-siapa, tema kemerdaan di tahun ke-80 ini adalah Bersatu Berdaulat Rakyat Sejahtera Indonesia Maju.

Coba kutanyakan: Siapa yang berdaulat?  Bagaimana mau berdaulat kalau semua hak dilucuti oleh pemerintah? Pajak Bumi dan Bangunan dinaikkan hingga ratusan persen di berbagai daerah di Indonesia. Kabupaten Pati di Jawa Tengah yang berhasil memukul mundur polisi saat demonstrasi pun diberi serangan mendadak gas air mata DI RUMAH IBADAH?! Malu sama Tuhan, wahai para tikus serakah! Sikap kalian tak ubahnya para zionis.

Belum lagi peraturan yang mengancam mengambil tanah milik rakyat jika ‘dianggurkan’ 2 tahun dan membekukan rekening yang tidak aktif. Hei, mengurus aset negara yang sudah kami percayakan saja tidak becus, kamu mau mengambil aset kami?! Kurang banyak apa hasil uang korupsi yang sudah kalian raup selama ini?

Lalu siapa pula yang sejahtera? Tingkat pengangguran negeri ini sudah mencapai yang teratas di seluruh ASEAN—total 7 juta orang hingga Maret 2025 kemarin. Mana 19 juta lapangan pekerjaan yang dijanjikan saat kampanye? Bikin job fair aja nggak becus! Bukannya sejahtera, rakyat malah berjuang mati-matian untuk bertahan hidup, dengan maraknya PHK, kebangkrutan dan minimnya lowongan pekerjaan yang sesuai.

Alih-alih memikirkan cara untuk menaikkan kualitas hidup masyarakat, pemerintah malah sibuk dengan proyek mereka masing-masing. Seolah kami rakyat ini hanyalah pemeran sampingan dalam hidup mereka. Apakah kedaulatan dan demokrasi juga hanya mainan belaka yang bisa kalian curangi dan akali kapanpun kalian mau? Usaha untuk turun ke lapangan dan survey pengalaman rakyat tidak ada, malah meluncurkan film setengah-setengah untuk menaikan jiwa patriotis rakyat—spoiler: film ini gagal total sebelum tayang, rakyat tidak sebodoh itu. Sebaliknya, karya yang dihasilkan rakyat sendiri tidak didukung sama sekali, tapi keberhasilannya diklaim sebagai bahan pencitraan. Apa peran kalian? Tidak ada, nol besar.

Kemeja Kakakku (pinjam) | atasan rajut bekas | rok Batik Keris (lama) | Natana clog sandals (clerance) | tote bag Roti Eneng | fotoku oleh Agung

Alih-alih memikirkan cara untuk menaikkan kualitas hidup masyarakat, pemerintah malah sibuk dengan proyek mereka masing-masing. Seolah kami rakyat ini hanyalah pemeran sampingan dalam hidup mereka. Apakah kedaulatan dan demokrasi juga hanya mainan belaka yang bisa kalian curangi dan akali kapanpun kalian mau? Usaha untuk turun ke lapangan dan survey pengalaman rakyat tidak ada, malah meluncurkan film setengah-setengah untuk menaikan jiwa patriotis rakyat—spoiler: film ini gagal total sebelum tayang, rakyat tidak sebodoh itu. Sebaliknya, karya yang dihasilkan rakyat sendiri tidak didukung sama sekali, tapi keberhasilannya diklaim sebagai bahan pencitraan. Apa peran kalian? Tidak ada, nol besar.

Kemeja Kakakku (pinjam) | atasan rajut bekas | rok Batik Keris (lama) | Natana clog sandals (clerance) | tote bag Roti Eneng | fotoku oleh Agung

Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat

Beberapa di antara seniman-seniman yang terlibat juga ada yang menciptakan karya untuk dijadikan kemasan eksklusif untuk lini produk extrait de parfum milik Project 1945—yang terdiri dari 8 scents dan kemasan ini hanya tersedia selama acara berlangsung. Diantaranya adalah nama-nama yang sudah tidak asing lagi untuk kalangan penggiat kesenian dan ilustrasi ibukota, yakni Sarkodit, Nadya Noor, Phantasien, dan Wulang Sunu. Kamu juga bisa mencium wangi masing-masing scent ini saat pamera—jujur hal yang paling ditunggu-tunggu oleh Agung sih.

Kemarin Agung dan aku berkunjung ke pameran POSCART: Hope for Indonesia yang diselenggarakan oleh Enmasse (sebagai bagian dari rangkaian acara pra-JICAF) bekerja sama dengan Project 1945 untuk merayakan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Pameran ini diadakan di area Melting Pot Ashta District 8 di lantai GF dan melibatkan 80 seniman yang membuat karya berisi harapan mereka untuk tanah air kita tercinta. Masing-masing karya tersebut bisa kita bawa pulang juga berupa kartu pos yang bisa dibeli—jika persediaan masih ada.

Beberapa di antara seniman-seniman yang terlibat juga ada yang menciptakan karya untuk dijadikan kemasan eksklusif untuk lini produk extrait de parfum milik Project 1945—yang terdiri dari 8 scents dan kemasan ini hanya tersedia selama acara berlangsung. Diantaranya adalah nama-nama yang sudah tidak asing lagi untuk kalangan penggiat kesenian dan ilustrasi ibukota, yakni Sarkodit, Nadya Noor, Phantasien, dan Wulang Sunu. Kamu juga bisa mencium wangi masing-masing scent ini saat pamera—jujur hal yang paling ditunggu-tunggu oleh Agung sih.

Kemarin Agung dan aku berkunjung ke pameran POSCART: Hope for Indonesia yang diselenggarakan oleh Enmasse (sebagai bagian dari rangkaian acara pra-JICAF) bekerja sama dengan Project 1945 untuk merayakan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Pameran ini diadakan di area Melting Pot Ashta District 8 di lantai GF dan melibatkan 80 seniman yang membuat karya berisi harapan mereka untuk tanah air kita tercinta. Masing-masing karya tersebut bisa kita bawa pulang juga berupa kartu pos yang bisa dibeli—jika persediaan masih ada.

Karena pameran ini sudah diadakan sejak tanggal 7 Agustus silam, aku dan Agung itungannya lumayan telat datang kemari, jadi ketika kami sampai di sana sudah banyak postcard dari seniman-seniman idolaku yang sudah habis—beberapa di antaranya (dan selain yang sudah kusebutkan di atas tadi) adalah Mas Isa Indra Permana, Wickana, Tissaflo, dan Varsam Kurnia.

Meskipun begitu, sejujurnya tujuan utamaku adalah karya salah satu temanku yang dipajang di sini, yaitu Hans Djap. Tanpa berpikir panjang, langsung kuambil kartu pos karyanya (dengan style vernakular yang khas) untuk kubeli. Selain itu, tadinya aku nyaris kalap mengambil kartu pos kanan kiri, tapi akhirnya dengan berat hati kuputuskan untuk membeli 2 lagi saja—yakni, karya Azis Wicaksono (yang juga dijadikan salah satu kemasan) dan Ummi Damas.

Selain ilustrasi—seperti yang sudah kusebutkan di atas—adapula serangkaian produk parfum yang dipamerkan oleh Project 1945 dan bisa kita coba. Tanpa berpikir panjang, Agung langsung meluncur dan menciumnya satu persatu. Kedelapan scents ini dipajang menyebar di sepanjang area pinggir pameran, sehingga untuk mencobanya kita memang harus sambil berkeliling. Agung langsung sibuk menyemprotkan semua scents ini ke berbagai area lengannya, sampai akhirnya dia pun kebingungan sendiri.

Setelah mencoba semuanya, kami berdua sepakat bahwa wangi yang paling kami sukai adalah Fields of Ubud—yang kemasannya digambar oleh Sarkodit. Wanginya terasa segar dan hijau, seperti warna botol dan kemasannya. Selain itu, kami juga cukup menyukai Bambu Runcing yang diilustrasikan oleh Azis Wicaksono. 

Karena pameran ini sudah diadakan sejak tanggal 7 Agustus silam, aku dan Agung itungannya lumayan telat datang kemari, jadi ketika kami sampai di sana sudah banyak postcard dari seniman-seniman idolaku yang sudah habis—beberapa di antaranya (dan selain yang sudah kusebutkan di atas tadi) adalah Mas Isa Indra Permana, Wickana, Tissaflo, dan Varsam Kurnia.

Meskipun begitu, sejujurnya tujuan utamaku adalah karya salah satu temanku yang dipajang di sini, yaitu Hans Djap. Tanpa berpikir panjang, langsung kuambil kartu pos karyanya (dengan style vernakular yang khas) untuk kubeli. Selain itu, tadinya aku nyaris kalap mengambil kartu pos kanan kiri, tapi akhirnya dengan berat hati kuputuskan untuk membeli 2 lagi saja—yakni, karya Azis Wicaksono (yang juga dijadikan salah satu kemasan) dan Ummi Damas.

Selain ilustrasi—seperti yang sudah kusebutkan di atas—adapula serangkaian produk parfum yang dipamerkan oleh Project 1945 dan bisa kita coba. Tanpa berpikir panjang, Agung langsung meluncur dan menciumnya satu persatu. Kedelapan scents ini dipajang menyebar di sepanjang area pinggir pameran, sehingga untuk mencobanya kita memang harus sambil berkeliling. Agung langsung sibuk menyemprotkan semua scents ini ke berbagai area lengannya, sampai akhirnya dia pun kebingungan sendiri.

Setelah mencoba semuanya, kami berdua sepakat bahwa wangi yang paling kami sukai adalah Fields of Ubud—yang kemasannya digambar oleh Sarkodit. Wanginya terasa segar dan hijau, seperti warna botol dan kemasannya. Selain itu, kami juga cukup menyukai Bambu Runcing yang diilustrasikan oleh Azis Wicaksono. 

Tiap tahun aku mengekspresikan rasa putus asaku terhadap pemerintah, sambil berusaha menyuarakan aspirasi untuk mengubah keadaan. Tapi tiap tahun juga aku dibuat takjub dengan kemampuan bangsa kita untuk terus berjuang, berkarya dan saling mengayomi. Meski di ujung tanduk, meski di tengah kekecewaan, entah bagaimana caranya kita bisa terus bertahan dan bergerak bersama-sama menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Kalau tahun lalu hal itu kurasakan dalam komunitas musik dalam negeri, sebenarnya sudah bertahun-tahun aku merasakan kehangatan dan semangat guyub itu pada komunitas ilustrasi Indonesia. Bersama kita bisa menjadi luar biasa, bersama kita bisa berusaha menggempur ketidakadilan.
 

Hari ini adalah hari terakhir untuk mengunjugi
pameran POSCART: Hope for Indonesia
Ayo datang ke Ashta District 8 mumpung masih ada!

thanks for reading

Tiap tahun aku mengekspresikan rasa putus asaku terhadap pemerintah, sambil berusaha menyuarakan aspirasi untuk mengubah keadaan. Tapi tiap tahun juga aku dibuat takjub dengan kemampuan bangsa kita untuk terus berjuang, berkarya dan saling mengayomi. Meski di ujung tanduk, meski di tengah kekecewaan, entah bagaimana caranya kita bisa terus bertahan dan bergerak bersama-sama menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Kalau tahun lalu hal itu kurasakan dalam komunitas musik dalam negeri, sebenarnya sudah bertahun-tahun aku merasakan kehangatan dan semangat guyub itu pada komunitas ilustrasi Indonesia. Bersama kita bisa menjadi luar biasa, bersama kita bisa berusaha menggempur ketidakadilan.
 

Hari ini adalah hari terakhir untuk mengunjugi
pameran POSCART: Hope for Indonesia
Ayo datang ke Ashta District 8 mumpung masih ada!

thanks for reading