Cinta di Tanah Air yang Porak Poranda

Aku merasa tahun ini rasa percaya rakyat terhadap pemerintah semakin menipis. Bagaimana tidak? Semua keputusan dan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah tidak menguntungkan rakyat, justru merugikannya. Hal ini terlihat paling jelas di kasus MBG yang bolak-balik meracuni anak bangsa, tapi pemerintah tetap bersikeras menjalankannya—seolah mereka lupa apa tujuan utama program ini. Atau mereka ingat betul tujuannya, yakni mengenyangkan perut mereka semata—bukan demi rakyat sama sekali.

Di samping itu, pihak-pihak yang selama ini mengabdi pada negara pun tidak luput dari ancaman hukuman tidak berdasar. Sosok-sosok seperti Nadiem Makarim dan Nicko Widjaja yang menjalankan tugas mereka sebagai Menteri Pendidikan dan CEO BRI Ventures dengan amanah pun bisa tiba-tiba dicurigai korupsi, tanpa mengantongi sepeser pun uang rakyat. Apakah ini cara kita menunjukkan apresiasi kita terhadap anak bangsa yang sudah kembali untuk mengabdi bagi tanah air?

Aku merasa tahun ini rasa percaya rakyat terhadap pemerintah semakin menipis. Bagaimana tidak? Semua keputusan dan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah tidak menguntungkan rakyat, justru merugikannya. Hal ini terlihat paling jelas di kasus MBG yang bolak-balik meracuni anak bangsa, tapi pemerintah tetap bersikeras menjalankannya—seolah mereka lupa apa tujuan utama program ini. Atau mereka ingat betul tujuannya, yakni mengenyangkan perut mereka semata—bukan demi rakyat sama sekali.

Di samping itu, pihak-pihak yang selama ini mengabdi pada negara pun tidak luput dari ancaman hukuman tidak berdasar. Sosok-sosok seperti Nadiem Makarim dan Nicko Widjaja yang menjalankan tugas mereka sebagai Menteri Pendidikan dan CEO BRI Ventures dengan amanah pun bisa tiba-tiba dicurigai korupsi, tanpa mengantongi sepeser pun uang rakyat. Apakah ini cara kita menunjukkan apresiasi kita terhadap anak bangsa yang sudah kembali untuk mengabdi bagi tanah air?

📷 DJI Osmo Pocket 3 + iPhone Mini 12 (app: Mood Camera)

Kau Injak-Injak Ibu Pertiwi

Yang paling menjijikkan, tikus-tikus di kursi pemerintahan itu beraninya menghancurkan alam indah Indonesia ini untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka membabat hutan-hutan di Sumatera, hingga akhirnya menyebabkan terjadinya banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—menghasilkan ribuan korban yang hingga kini tidak menentu nasibnya. Mereka merobohkan rumah-rumah adat Toraja yang ikonis dan usianya sudah ratusan tahun. Mereka menghancurkan habitat kuskus papua di Merauke untuk dijadikan lahan swasembada pangan dan energi, serta perkebunan sawit baru.

Mereka melihat lahan dan hutan, dan yang mereka lihat adalah uang semata. Mereka tidak menyadari bahwa negeri ini juga adalah habitat, bukan hanya untuk manusia, tapi juga hewan dan tanaman. Pulau-pulau di Nusantara tidaklah kosong, semuanya itu ada penghuninya—baik manusia maupun bukan. Kekayaan alam yang kita miliki itu bukan hanya demi menghasilkan uang dan menggemukkan dompet para penguasa belaka. Buat apa memikirkan swasembada pangan dan energi, jika kebutuhan pokok rakyat saja masih belum terpenuhi? Apanya yang swasembada pangan jika rakyat di sekitar lahan-lahan tersebut tetap kelaparan?

Sepatu dan kemeja lengseran | rok hasil thrifting | pita rambut Oh My Bows! (sudah tutup) | anting dari ANDiE |
foto-fotoku diambil oleh Mapa

Yang paling menjijikkan, tikus-tikus di kursi pemerintahan itu beraninya menghancurkan alam indah Indonesia ini untuk kepentingan mereka sendiri. Mereka membabat hutan-hutan di Sumatera, hingga akhirnya menyebabkan terjadinya banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat—menghasilkan ribuan korban yang hingga kini tidak menentu nasibnya. Mereka merobohkan rumah-rumah adat Toraja yang ikonis dan usianya sudah ratusan tahun. Mereka menghancurkan habitat kuskus papua di Merauke untuk dijadikan lahan swasembada pangan dan energi, serta perkebunan sawit baru.

Mereka melihat lahan dan hutan, dan yang mereka lihat adalah uang semata. Mereka tidak menyadari bahwa negeri ini juga adalah habitat, bukan hanya untuk manusia, tapi juga hewan dan tanaman. Pulau-pulau di Nusantara tidaklah kosong, semuanya itu ada penghuninya—baik manusia maupun bukan. Kekayaan alam yang kita miliki itu bukan hanya demi menghasilkan uang dan menggemukkan dompet para penguasa belaka. Buat apa memikirkan swasembada pangan dan energi, jika kebutuhan pokok rakyat saja masih belum terpenuhi? Apanya yang swasembada pangan jika rakyat di sekitar lahan-lahan tersebut tetap kelaparan?

Sepatu dan kemeja lengseran | rok hasil thrifting | pita rambut Oh My Bows! (sudah tutup) | anting dari ANDiE | foto-fotoku diambil oleh Mapa

Sungguh, seumur hidupku menjadi Warga Negara Indonesia, baru kali ini aku merasa mendapatkan seorang kepala negara yang setidak peduli itu terhadap rakyat, tidak memiliki wibawa sedikit pun, dan berulang kali mengambil keputusan terburuk yang berkontribusi pada kemerosotan negeri. Tiap pidatonya tidak hanya menambah sakit kepala masyarakat, tapi juga berpengaruh langsung terhadap pasar saham dan inflasi Rupiah—hingga USD bisa menyentuh angka 18 ribu, pertama kali dalam sejarah.

Tidak heran bahwa berbagai cobaan bertubi-tubi yang disebabkan oleh pihak-pihak berwenang tapi tidak bertanggung jawab ini membuat banyak rakyat Indonesia yang enggan merayakan kemerdekaan negeri ini. Apa benar kita sudah merdeka? Bagaimana mungkin, jika 19 juta rakyat kesulitan mendapatkan pekerjaan? Bagaimana mungkin, jika harga bahan-bahan pokok semakin melejit dan BBM semakin sulit ditemukan? Bagaimana mungkin, jika pemerintah memilih untuk membeli ribuan ekskavator dibanding membantu korban bencana alam?

Sungguh, seumur hidupku menjadi Warga Negara Indonesia, baru kali ini aku merasa mendapatkan seorang kepala negara yang setidak peduli itu terhadap rakyat, tidak memiliki wibawa sedikit pun, dan berulang kali mengambil keputusan terburuk yang berkontribusi pada kemerosotan negeri. Tiap pidatonya tidak hanya menambah sakit kepala masyarakat, tapi juga berpengaruh langsung terhadap pasar saham dan inflasi Rupiah—hingga USD bisa menyentuh angka 18 ribu, pertama kali dalam sejarah.

Tidak heran bahwa berbagai cobaan bertubi-tubi yang disebabkan oleh pihak-pihak berwenang tapi tidak bertanggung jawab ini membuat banyak rakyat Indonesia yang enggan merayakan kemerdekaan negeri ini. Apa benar kita sudah merdeka? Bagaimana mungkin, jika 19 juta rakyat kesulitan mendapatkan pekerjaan? Bagaimana mungkin, jika harga bahan-bahan pokok semakin melejit dan BBM semakin sulit ditemukan? Bagaimana mungkin, jika pemerintah memilih untuk membeli ribuan ekskavator dibanding membantu korban bencana alam?

Menyuarakan Cinta untuk Tanah Air

Tapi, entah bagaimana ceritanya, di tengah tanah air yang porak poranda ini, kita semua menemukan cinta yang menguatkan semangat revolusi. Cinta itu tumbuh dari persamaan tekad yang kita rasakan untuk melihat tanah air pulih kembali, lepas dari tangan penjajah berkulit legam dan kembali ke pelukan para penduduknya. Aku melihat rasa cinta ini dirasakan oleh masyarakat dari berbagai golongan yang bertemu untuk saling menyokong dan melindungi—utamanya, dari gerakan #WargaJagaWarga yang sudah disuarakan sejak tahun lalu. Tanpa diduga, dari puing-puing negeri ini, semangat ’45 menemukan tempatnya dalam genggaman tangan solidaritas.

Aku sungguh terharu melihat bagaimana adik-adik mahasiswa dengan lantang menyampaikan tuntutan rakyat, bersikeras agar didengar oleh pemerintah yang pura-pura tuli itu. Adapula ibu-ibu yang berkumpul dengan guyub, memberikan bantuan konsumsi dan medis kepada para pendemo. Hadir juga para mitra ojek online dari berbagai perusahaan yang dengan sigap melindungi dan memberikan bantuan dengan kemampuan mereka. Bahkan wanita dari berbagai kalangan pun menunjukkan ketangguhan mereka menerobos aparat yang berusaha menghalangi unjuk suara mereka. Sungguh hebat masyarakat ini menemukan persatuan tanpa bimbingan dari mereka yang mengaku pemimpin—demi cinta terhadap Indonesia.

Tapi, entah bagaimana ceritanya, di tengah tanah air yang porak poranda ini, kita semua menemukan cinta yang menguatkan semangat revolusi. Cinta itu tumbuh dari persamaan tekad yang kita rasakan untuk melihat tanah air pulih kembali, lepas dari tangan penjajah berkulit legam dan kembali ke pelukan para penduduknya. Aku melihat rasa cinta ini dirasakan oleh masyarakat dari berbagai golongan yang bertemu untuk saling menyokong dan melindungi—utamanya, dari gerakan #WargaJagaWarga yang sudah disuarakan sejak tahun lalu. Tanpa diduga, dari puing-puing negeri ini, semangat ’45 menemukan tempatnya dalam genggaman tangan solidaritas.

Aku sungguh terharu melihat bagaimana adik-adik mahasiswa dengan lantang menyampaikan tuntutan rakyat, bersikeras agar didengar oleh pemerintah yang pura-pura tuli itu. Adapula ibu-ibu yang berkumpul dengan guyub, memberikan bantuan konsumsi dan medis kepada para pendemo. Hadir juga para mitra ojek online dari berbagai perusahaan yang dengan sigap melindungi dan memberikan bantuan dengan kemampuan mereka. Bahkan wanita dari berbagai kalangan pun menunjukkan ketangguhan mereka menerobos aparat yang berusaha menghalangi unjuk suara mereka. Sungguh hebat masyarakat ini menemukan persatuan tanpa bimbingan dari mereka yang mengaku pemimpin—demi cinta terhadap Indonesia.

Sehubungan dengan semangat perjuangan dan persatuan, tahun ini pun banyak saudara kita yang dihantam oleh bencana bertubi-tubi. Yang baru saja terjadi tanggal 15 Agustus 2026 kemarin ini adalah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 di NTT. Bencana tersebut menelan hingga 53 korban jiwa dan 135 orang luka-luka. Kini NTT membutuhkan bantuan kita lebih dari apapun. Jika kamu memiliki sedikit uang atau perlengkapan lebih yang mungkin bisa berguna bagi mereka, mohon salurkan bantuan tersebut kepada Floresa.co atau WALHI NTT. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kemari. Tentu saja, jika kalian tahu organisasi lain yang bisa menyalurkan bantuan ke daerah-daerah lain NTT, boleh tambahkan infonya di komen.

Panjang umur perjuangan! Terus membara semangat revolusi!

thanks for reading

Sehubungan dengan semangat perjuangan dan persatuan, tahun ini pun banyak saudara kita yang dihantam oleh bencana bertubi-tubi. Yang baru saja terjadi tanggal 15 Agustus 2026 kemarin ini adalah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 di NTT. Bencana tersebut menelan hingga 53 korban jiwa dan 135 orang luka-luka. Kini NTT membutuhkan bantuan kita lebih dari apapun. Jika kamu memiliki sedikit uang atau perlengkapan lebih yang mungkin bisa berguna bagi mereka, mohon salurkan bantuan tersebut kepada Floresa.co atau WALHI NTT. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kemari. Tentu saja, jika kalian tahu organisasi lain yang bisa menyalurkan bantuan ke daerah-daerah lain NTT, boleh tambahkan infonya di komen.

Panjang umur perjuangan! Terus membara semangat revolusi!

thanks for reading